Senin, 28 Mei 2012

Satu

Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri



kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu
ke dalam rambutmu kuterjemahkan rambutku
jika tanganmu tak bisa bilang tanganku
kuterjemahkan tanganku ke dalam tanganmu
jika lidahmu tak bisa mengucap lidahku
kuterjemahkan lidahku ke dalam lidahmu
aku terjemahkan jemariku ke dalam jemarimu
jika jari jemarimu tak bisa memetikku
ke dalam darahmu kuterjemahkan darahku
kalau darahmu tak bisa mengucap darahku
jika ususmu belum bisa mencerna ususku
kuterjemahkan ususku ke dalam ususmu
kalau kelaminmu belum bilang kelaminku
aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu

daging kita satu arwah kita satu

walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku



Seluruh karya sastra, termasuk puisi, ditulis oleh sang penyair dalam latar belakang dan referensi yang berbeda-beda. Secara pibadi saya pun tidak mengerti tatanan baku dalam pembuatan sebuah puisi. Dalam sudut pandang saya, sebuah karya seni adalah sesuatu yang tidak bisa dirumuskan atau dibakukan, karena setiap karya mempunyai nilai estetikanya tersendiri. Namun yang menarik untuk dipahami adalah pada saat kita membaca sebuah karya yang mungkin tidak kita ketahui latar belakangnya, masing-masing dari diri kita mempunyai satu pemahaman tersendiri mengenai karya tersebut. Tidak ada salah, tidak ada benar. Sang penulis pun, membuat karyanya berdasarkan sebuah sudut pandang, yakni sudut pandang pribadi si penulis. Sehingga ketika itu sampai di hati dan benak orang yang membacanya, akan munculah pemahaman yang subjektif berdasarkan pengalaman batin dan hidup si pembaca.
Pada hari ini, saya mengutip sebuah karya dari Sutardji Calzoum Bachri, sesosok penyair yang dikatakan telah mengubah konsep dan definisi puisi modern di Indonesia. Saya tidak akan membahas karya ini dari sisi pembuatannya, tapi lebih pada pengertian yang sampai di benak dan hati saya ketika saya membaca kata-kata dari Sutradji Calzoum Bachri dalam puisi "Satu" ini. 
Saya melihat bahwasanya karya ini mengangkat tema cinta sebagai makna dari apa yang tertuang melalui kata-katanya. Ketika seseorang bisa mengatakan "cinta", sesungguhnya kata itu mengandung makna yang sangat amat luas, dan tidak bisa disamakan konsepnya di benak setiap insan. Seberapa dalam dan luas pemahaman seseorang akan cinta, itulah yang akan menjadi manifestasi nyata di dalam seseorang melakoni sebuah relasi cinta ke sesamanya.
Ketika seseorang masih bisa melihat perbedaan antara "kau" dan "aku", maka kepentingan demi kepentingan, atau bisa disebut sebagai egoisme lah yang menjadi isi dari kata cinta yang diagung-agungkan oleh pikiran kita. Dalam puisi ini, menurut saya cinta dijabarkan sebagai suatu perjalanan dalam mengancurkan kata "aku". Di kalimat pertama, "Kuterjemahkan tubuhku dalam tubuhmu", dapat diibaratkan seperti pada saat seseorang memulai sebuah hubungan yang lebih dalam dengan orang lain. Pada awal perjalanan relasi tersebut, hal-hal yang lebih universal mengenai seorang manusia lah, yang menjadi sorotan utama; bahwasanya aku bisa menerima engkau apa adanya seperti engkau yang sekarang ini. Seiring dengan berjalannya waktu dan mendalamnya keintiman sebuah relasi, maka layar demi layar mengenai pribadi seseorang akan semakin terbuka. Tantangan pun semakin mencuat dengan mulai adanya perbedaan paham akan suatu hal, dari yang besar sampai yang kecil. Di karya "Satu" ini, Sutradji mengisyaratkan itu dari cara ia mengambil kata "tubuh" pada awalnya, dan semakin dalam sampai "usus" dan "kelamin" pun menjadi ikon di puisi ini. Namun lebih dari kata yang dipilih olehnya, saya menganggap bahwasanya pemakaian kata-kata yang secara denotatif itu negatif, tepat adanya. Darah, usus, dan kelamin adalah representasi dari sifat-sifat dan perasaan-perasaan manusia yang memang buruk apa adanya. Tetapi tanpa semua itu, manusia tidak akan bisa hidup. Semua sifat dan perasaan buruk adalah variabel-variabel yang tidak dapat dihilangkan dari ekuasi seorang manusia karena kita masih terbuat dari darah dan daging, yang notabene nya adalah kotor apa adanya. Namun bila kita melihat lebih jauh lagi, yang menjadi permasalahan adalah apakah kita dapat menyadari dan membunuh segala kekotoran yang menjadi perbedaan antara "kau" dan "aku". Lalu secara jujur kita harus bertanya lagi ke diri kita sendiri bahwasanya apa yang sebenarnya menjadi sumber dari perbedaan tersebut; "kau" atau "aku".   
Segala yang dilantunkan oleh Sutardji dalam puisi ini, menurut saya dapat pula disimpulkan dengan pengertian bahwasanya apabila seseorang dapat secara konsisten "membunuh" dirinya, maka yang akan tersisa hanyalah cinta itu tersendiri, dan akan ada pengertian yang lebih dalam mengenai cinta dibandingkan dengan yang belum pernah "membunuh" dirinya sendiri. Dengan "membunuh" diri kita, maka kata "kau" dan "aku" pun akan semakin memudar, dan kita mungkin bisa semakin dekat dengan pengertian ideal mengenai cinta seperti yang tertoreh di karya Sutradji ini; tidak ada lagi yang tersisa di diri kita selain cinta itu sendiri.

daging kita satu
arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku...